Pilrek Tidak Jelas, Civitas Academica Bertindak

Aksi pernyataan sikap mahasiswa yang diinisasi oleh Aliansi Kastrat 1 Unpad, Senin (3/12). Pernyataan sikap tersebut merupakan hasil audiensi Kastrat 1 Unpad yang diajukan kepada MWA Unpad, menuntut kejelasan pemilihan rektor unpad 2019-2024. Foto: Tamimah Ashilah

“Menunggu hal yang tak pasti itu, kan, lebih bahaya daripada menunggu kelahiran seorang anak,” tutur Ahmad Bahrudin, Dosen Program Studi Statistika, Universitas Padjadjaran (Unpad). Pernyataan itu berkenaan dengan pemilihan rektor (pilrek) Unpad yang jadwalnya terus molor.

Sore itu Tugu Brooklyn Unpad dipenuhi suara penuh semangat yang disalurkan melalui toa. Bersautan dengan guyuran hujan, orasi para ketua lembaga kemahasiswaan di Unpad disampaikan. Tepatnya Senin (3/12/18), sebuah aksi menuntut kejelasan pilrek Unpad dilaksanakan.

Aksi yang diinisiasi oleh Kastrat 1 Unpad, atau gabungan dari seluruh divisi kastrat (kajian dan aksi strategis) dari setiap fakultas ini berlangsung sejak pukul 16.30 WIB sampai 18.00 WIB. Aksi dimulai dari penyampaian orasi para ketua BEM fakultas yang diundang. Kemudian orasi dosen dan para aktivis kemahasiswaan.

Dalam orasi, berbagai tuntutan dan penjelasan dipaparkan. Mahasiswa, dosen, staf, dan tenaga kependidikan butuh kepastian terkait pilrek Unpad. Pengunduran waktu dengan alasan yang tidak jelas dari pihak Majelis Wali Amanat (MWA) juga menjadi salah satu alasan aksi tersebut dilaksanakan.

Meskipun sejak awal aksi hujan terus mengguyur, namun tidak sedikit pun mahasiswa dan dosen peserta aksi menurunkan semangatnya. Bahkan mereka meminta seluruh mahasiswa untuk tidak takut sakit karena terkena air hujan.

“Karena yang sakit itu Unpad, teman-teman,” ujar salah seorang peserta aksi  dengan lantang.

Keresahan yang timbul akibat ketidakpastian pilrek sebetulnya tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa. Tetapi, juga dosen dan tenaga pendidikan di Unpad. Ketidakpastian dalam pilrek, menurut Abah, sapaan akrab Ahmad Bahrudin, telah menimbulkan prasangka-prasangka.

“Dosen sendiri sebetulnya banyak yang support ke saya, tapi, kan, tahu sendiri, dosen kadang-kadang takut dipecat, takut begini, begini. Dosen sendiri sebetulnya waswas saat ini, tapi kalau misalkan kita bergeraknya dengan banyak orang, nah, ini nanti juga akan (mau) terlibat,” tutur Abah.

Aksi Kastrat 1 Unpad dikoordinatori oleh Indri. Mahasiswi berkerudung dan mengenakan jas almamater tersebut menjadi koordinator lapangan aksi. Saat ditemui, ia menuturkan, tujuan aksi tersebut adalah meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap isu pilrek Unpad.

“Pilrek Unpad itu isu yang terhimpit dengan isu-isu pesta demokrasi, jadi kita menghadirkan kembali dan mengudarakan kembali isu mengenai pilrek Unpad yang benar-benar seperti hilang-tenggelam-hilang-tenggelam, dan muncul lagi tiba-tiba,” kata Indri menjabarkan.

Waktu yang semakin hari semakin sempit juga mendorong mahasiswa melakukan aksi tersebut. Berdasarkan penuturan Indri, 13 Januari mendatang adalah batas waktu pemilihan rektor, sehingga pada tanggal tersebut Unpad seharusnya sudah memiliki rektor baru. Mengingat berdasarkan statuta Unpad, rektor baru harus terpilih tiga bulan sebelum rektor menjabat turun. Rektor yang tengah menjabat saat ini akan menyelesaikan masa jabatannya pada 13 April 2019 mendatang.

Setelah berbagai orasi disampaikan, peserta aksi selanjutnya berkumpul di depan ATM Center sambil membentangkan spanduk berisi tanda tangan dan aspirasi mahasiswa, serta banner pemilihan rektor Unpad yang terpampang di banyak titik di Unpad. Mereka merapatkan barisan dan membacakan pernyataan sikap yang dihasilkan dari beberapa kajian terdahulu sebelum aksi tersebut dilaksanakan.

Imam Syahid, Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis ditunjuk untuk membacakan pernyataan sikap yang dibawa dalam aksi tersebut. Menggunakan toa, Imam membacakan satu persatu poin dari pernyataan sikap tersebut. Selanjutnya, dalam evaluasi, Indri menyatakan akan membungkus kain berisikan tanda tangan dan aspirasi mahasiswa serta lembar pernyataan sikap untuk dihadiahkan kepada Majelis Wali Amanat.

Aksi Lanjutan Mahasiswa

Setelah lebih dari 7×24 jam aksi Katrat 1 Unpad dilakukan, MWA masih tidak memberikan kejelasan terkait pemilihan rektor, sedangkan waktu semakin sempit. Maka pada Rabu (12/12/18) aliansi yang menamakan dirinya sebagai Aliansi Masyarakat Peduli Unpad (AMPUN) melakukan aksi lanjutan.

Aksi tersebut dimulai dari mengajak dan menggalang massa aksi dari setiap fakultas. Dengan membawa mobil bak terbuka dan rombongan, AMPUN dan peserta aksi berkeliling kampus terlebih dahulu sebelum mendatangi gedung Rektorat dan ruang Rektor Unpad, Tri Hanggono Achmad.

Peserta aksi sempat melakukan penyegelan terhadap ruang Rektor Unpad. Namun, Tri Hanggono sebagai rektor sekaligus anggota MWA tidak ada saat itu dan dikabarkan tengah melakukan rapat di Dipatiukur. Di tengah penyegelan tersebut, terjadi audiensi dan negosiasi antara peserta aksi dengan pihak rektorat yang diberi mandat untuk menemui mahasiswa.

Aksi penyegelan ruang Rektor Universitas Padjadjaran, Rabu (12/12). Aksi tersebut merupakan aksi lanjutan untuk meminta kejelasan terkait pemilihan Rektor Unpad periode 2019-2024. Foto: Tamimah Ashilah.

Di tengah riuh ramai suara mahasiswa peserta aksi, pihak rektorat mempertanyakan siapa mahasiswa yang hadir dalam jumpa pers terakhir yang diadakan oleh MWA pada 27 Oktober lalu dan menanyakan isi jumpa pers tersebut. Izmu sebagai anggota MWA Wakil Mahasiswa mengaku hadir dalam jumpa pers tersebut. Namun, saat itu MWA belum memberikan kejelasan terkait pemilihan rektor. Sehingga mahasiswa kembali melakukan aksi.

Pihak Rektorat yang diwakili Teguh pun belum dapat memberikan kejelasan mengenai pilrek dengan alasan ia juga tidak mengetahuinya. Ada pun ia menemui peserta aksi sebatas karena mandat dari Direktur Tata Kelola dan Komunikasi Publik Unpad, Aulia Iskandarsyah, yang meminta bantuan untuk mengurus peserta aksi di Jatinangor.

“Tolong dibantu di Jatinangor,” tuturnya meniru pesan Aulia.

Saat mahasiswa mempertanyakan dibantu untuk apa, Teguh hanya mengatakan itu bahasa koordinasi mereka. Jawaban tersebut kembali mengundang sorakan peserta aksi, karena merasa ada hal yang disembunyikan. Akhirnya, peserta aksi meminta pihak rektorat untuk menghubungi Tri Hanggono dan menunggu dengan tertib informasi selanjutnya di gedung Rektorat.

Di sela-sela aksi, dJatinangor melakukan wawancara dengan koordinator lapangan aksi, Abdurrohman, tim negosiasi yang diwakili oleh Harangan, dan jenderal lapangan aksi, Andreas.

Menurut Abdurrohman, peserta aksi dan AMPUN masih akan menunggu respon kejelasan terkait pilrek hingga hari Jumat, karena ada kabar bahwa Jumat (14/12/18) MWA akan mengadakan rapat di Dipatiukur dan dihadiri oleh Ketua MWA, Rudiantara. Namun, jika sampai nanti tidak ada kejelasan, maka AMPUN akan melaksanakan aksi lanjutan dan akan memberikan simbol terkait aspirasi mahasiswa.

“Jika tidak ada respon lagi, nah, itu ada indikasi kesengajaan untuk rektor Unpad itu di-Plt-kan,” tutur Abdurrohman.

Abdurrohman juga berharap mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dapat bergerak bersama, karena kepentingan yang dibawa bukan hanya kepentingan segelintir orang atau kelompok tertentu, melainkan kepentingan bersama. Namun, nyatanya tidak banyak mahasiswa yang turut serta dalam aksi tersebut. Abdurrohman menambahkan, menurutnya mugkin mahasiswa belum tahu atau belum terkena dampak kalau nanti posisi rektor diisi Plt.

Dalam aksi ini, selain menuntut kejelasan, AMPUN dan peserta aksi meminta nama rektor baru Unpad dipublikasikan pada 20 Desember 20. Tanggal tersebut dipilih dengan beberapa pertimbangan, anatara lain setelah lewat tanggal 20 Desember, sudah memasuki akhir tahun yang merupakan status quo civitas academica.

Sebelum peserta aksi meninggalkan gedung Rektorat Unpad, pihak rektorat telah berkoordinasi dengan MWA dan menyatakan akan ada pertemuan atau audiensi pada Jumat (14/12/18) mendatang. Namun, Abdurrohman mengatakan, jika pertemuan tersebut masih tidak menghasilkan tanggal atau kepastian, maka AMPUN akan melakukan aksi lanjutan.

Dalam pertemuan terakhir, Teguh menjanjikan akan menyampaikan tuntutan dan keresahan mahasiswa kepada Sekretaris MWA dan Rektor Universitas Padjadjaran.

“Setelah itu, yang katanya ada rapat MWA hari Jumat ini, atau hari apapun itu dalam minggu ini, kita sudah menuntut ketika rapat itu terjadi, harus sudah ada tanggal yang ditentukan untuk pemilihan rektor. Tidak masalah tanggal berapa pun, meskipun melebihi tanggal 20, yang jelas pemilihannya ada, dan tidak diulang-ulang lagi prosesnya. Dan kita juga tegaskan bahwa kita di sini tidak mendukung salah satu calon yang sudah terpilih, kita murni memprotes yang namanya proses, kejanggalan-kejanggalan, yang ada dalam proses ini,” Harangan menyampaikan.

Jika MWA sudah memberi tanggal yang disepakati bersama, maka AMPUN menyatakan tidak akan ada aksi lanjutan dan menunggu kelanjutan proses pemilihan rektor Unpad hingga selesai.

Tamimah Ashilah/Farhan Fadilah/Elisa Christiana

Editor: Ananda Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *