Temen Tapi Demen

0
Temen Tapi Demen

Djaka Pening Mencari Pacar, Ada yang Beminat? Ilustrasi oleh: Zara Zeysa

Temen rasa pacar atau pacar rasa temen nih?

Bukan pacar tapi gandengan.

Cuma temen tapi cemburu.

Bilangnyasih sayang.

Tapi nggak pacaran.

Pernahkah kamu merasakan hal di atas? Atau mungkin sedang terlibat dalam hubungan semacam itu? Kamu merasa saling sayang dengan seseorang, tetapi tidak ada status jelas yang menjadi “judul” hubungan kalian. Kamu sadar kalau dekat dengan seseorang lebih dari sekadar teman. Orang menganggap kalian pacaran,tapi bagi kamu dan pasangan, tidak ada tuh peresmian hubungan di antara kalian. Ituberarti kalian menjalani hubungan tanpa status.

Langgersari Elsari Noviati, dosen sekaligus psikolog dari Fakultas Psikologi Unpad,  mengatakan ilmu psikologi tidak mengenal yang namanya hubungan tanpa status. Menurutnya, hubungan apapun membutuhkan komitmen antara dua orang yang menjalaninya.

Robert J Sternberg (1986), psikolog, peneliti, sekaligus penulis The Triangle of Love, menyebut seseorang perlu keintiman, hasrat, dan komitmen dalam berhubungan cinta dengan orang lain. Keintiman terkait perasaan kedekatan dalam suatu hubungan. Hasrat berhubungan dengan rasa suka dalam hubungan,  percintaan, dan keterkaitan fisik.

Komitmen sendiri memiliki dua aspek; jangka pendek dan jangka panjang.  Komitmen jangka pendek hanya sebatas pengakuan cinta. Sedangkan aspek jangka panjang terkait komitmen menjaga cinta itu. Komitmen jangka panjang inilah yang berujung pada status pacar atau menikah. Pelaku hubungan tanpa status kehilangan unsure komitmen tersebut. Sternberg menamakan hubungan cinta, dengan keintiman dan hasrat tapi tanpa komitmen, romantic love. Pasangan cinta romantic tidak hanya tertarik secara fisik tapi emosional. Komitmen menjadi tidak terlalu penting. Mereka biasanya menyadari komitmen tidak mungkin terjadi atau bisa dibicarakan di masa depan.

Sebenarnya, mengapa banyak orang memilih berhubungan tanpa status (hts)? Dzaki Rahmatullah, Sastra Jepang 2015 Fakultas Sastra Universitas Komputer (Unikom) Indonesia di Bandung, mengatakan lebih memilih hts karena tidak menyukai hubungan pacaran yang nanti berakhir putus.

Hal senada dikatakan Kautzar Dhali, “Aku waktu pacaran sering putus nyambung sampai bosen. Akhirnya lebih milih hts. Kami tetep deket tanpa perlu balikan jadi pacar,”  mahasiswa Televisi dan Film 2017 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad).

Mahasiswi Agroteknologi 2017 Fakultas Pertanian Unpad, Petra Sulistya Dian Krissanti, mempunyai alasan berbeda. Ia awalnya terlibat dalam long distance relationship(ldr). Tidak kuat berhubungan jarak jauh menyebabkan hubungannya berakhir. Walaupun begitu, ia mengaku masih berhubungan pasca putus.

Teori mengenai komitmen hubungan, Interdependency Theory, oleh Carl Rusbult (1993) mengatakan suatu pasangan berkomitmen karena adanya ketergantungan. Ketergantungan ini muncul karena faktor kepuasan, alternatif, dan investasi. Kepuasan berarti seseorang mendapat lebih banyak keuntungan dari pasangannya. Alternatif mengenai tidak ada individu lain yang lebihbaik. Investasi terkait hal yang seseorang berikan untuk pasangannya. Faktor ini yang menghasilkan komitmen. Semakin kuat faktor, semakin lama sebuah hubungan. Pasangan yang putus berarti kehilangan faktor tersebut.

Lalu, mengapa hubungan tanpa status tetap ada? Rusbult mengatakan perempuan dengan hubungan alternatif  yang luas—kebebasan,karier, atauhubungansosial—kurang termotivasi berkomitmen. Senada, individu yang mengerjakan banyak pekerjaan ternyata kurang berkomitmen dalam hubungan romantis.

Dzakimengatakan hubungan seperti ini membuat ia dan “pasangannya” sadar untuk menjaga perasaan masing-masing. “Nggak perlu tembak-tembakan tapi membuktikan rasa sayang aja,” ujarnya. Pasangan hts Dzaki, seorang mahasiswa jurusan TV dan Film Unpad pun menyatakan enjoy dalam menjalani hubungan seperti ini.

Pengakuan mereka tidak salah. Ini terbukti dalam studi oleh Dr. Terri Conley dari University of Michigan. Penelitian dilakukan terhadap 2.124 orang berusia 20-25 tahun.  Para partisipan merupakan orang yang melakukan hubungan dengan dan tanpa status. Hasilnya membuktikan, tidak ada perbedaan antara mereka perihal kepuasan dan hasrat cinta. Baik pasangan yang berpacaran maupun hts sama-sama merasa bahagia. Bahkan mereka yang hts lebih sedikit cemburu dan menunjukkan kepercayaan yang lebih besar.

Hal ini berlawanan dengan penelitian mengenai rata-rata orang percaya hubungan dengan status lebih memuaskan, saling mempercayai, penuh hasrat, dan lebih sedikit cemburu dibandingkan hubungan lain.

Walaupun pelaku hts terlihat menikmati hubungannya, ada hal yang sering mengganggu hubungan mereka. Petra Sulistya mengatakan, ia nyesek jika melihat pasangannya dekat dengan perempuan lain. Apalagi kalau ia tidak mengenalnya.

Tasya menyetujui pernyataan tersebut. Ia sadar kalau mereka tidak mempunyai status hubungan yang jelas. Namun, ia tetap sering merasa cemburu melihat perempuan yang dekat dengan “pacarnya”. Pasangannya pun merasa begitu terhadapnya.

Hubungan tanpa status kan kelihatannya sama seperti pacaran.Terus, pernah nggaksih kepikiran pacaran aja, bukan hts? “Gaada kepikiran pacaran sih karena udah lama menjalin hubungannya. Yaudah jalanin aja gitu,” jawab Tasya sambil tertawa.

Erwina Rachmi

Editor: Gerhan Zinadine

LEAVE A REPLY