Merawat Ingatan Tentang Wiji Thukul

Pantomim oleh Wanggi Hoed dalam selingan acara #BandungMenolakLupa di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Sabtu 17 Maret 2018 Foto oleh: Tamimah Ashila

Karena kebenaran akan terus hidup

Sekalipun kau lenyapkan

Kebenaran takkan mati

Aku akan tetap ada dan berlipat ganda

 

Begitu potongan lagu yang menyapa telinga para pengunjung Gedung Indonesia Menggugat, Sabtu (17/3). Hari itu, pemutaran dan diskusi film Istirahatlah Kata-Kata diselenggarakan.

Acara bertajuk #BandungMenolakLupa tersebut merupakan hasil inisiasi Kolektif Kritis, Mercusuar Merah, dan Ruang Film Bandung. Dengan memutarkan film yang berkisah tentang pelarian Wiji Thukul, acara ini ingin mengedukasi masyarakat mengenai isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM). Acara ini juga bentuk refleksi perjuangan sang aktivis dan seniman yang kabarnya hilang hingga saat ini.

Meski tema acara ini adalah spirit perjuangan Wiji Thukul, panitia tak lupa membawa pesan-pesan perlawanan terhadap penggusuran. Fenomena yang tengah berlangsung di Bandung itu dihadirkan panitia dalam bentuk pameran foto, lapak–lapak buku bertema pergerakan, serta dramatisasi puisi oleh beberapa penampil.

“Kita melihat pergerakan sosok Wiji Thukul pada waktu itu. Bukan hanya seniman, tapi juga aktivis sosial. Jadi, kita mengaitkan periode (perjuangan) Wiji Thukul saat itu (melawan) yang otoriter, ke periode sekarang. Di mana (keadaannya) hampir serupa,” ujar Dani Ramdani, ketua pelaksana acara #BandungMenolakLupa.

Diadakan pula diskusi mengenai hukum dan HAM, pergerakan, serta bedah film Istirahatlah Kata-Kata. Diskusi tersebut dipantik oleh Usman Hamid selaku koordinator KontraS dan Amnesty Internasional, Herry Sutresna atau Ucok ‘Homicide’ selaku aktivis dan musisi, juga Eriko Utama sebagai pengamat film Bandung.

“Kita sebagai generasi muda sudah seharusnya berterimakasih kepada kawan Wiji Thukul, atau pun kawan aktivis-aktivis gerakan ’98 yang lain seperti Munir, Bimo Petrus. Karena tanpa mereka enggak mungkin kita bisa menikmati kebebasan demokrasi seperti sekarang,” tutur Riko, mahasiswa Universitas Islam Nusantara, ketika ditanyai pendapatnya mengenai acara ini.

“Film ini salah satu cara bagaimana kita berterimakasih kepada mereka dan bisa mengilhami perjuangan-perjuangan mereka,” tambahnya.

Pendapat berbeda diutarakan oleh Shofie, mahasiswi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati. Menurutnya, acara pemutaran film ini memiliki dimensi yang cukup istimewa. Pasalnya, ketiga pemantik diskusi membahas film karya Yosep Anggi Noen tersebut secara seimbang. Unsur HAM, penilaian dari segi perfilman, serta pergerakan para aktivis dibungkus dalam diskusi. Menurutnya, acara seperti ini harus terus ada.

Ananda Putri

Editor: Nadhen Ivan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *