Geliat Pengrajin Desa Cipacing

0
Geliat Pengrajin Desa Cipacing

Cipacing, salah satu desa di Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Desa yang terletak di ujung Kabupaten Sumedang ini terkenal dengan berbagai kerajinannya. Kerajinan yang paling terkenal adalah produk senapan angin. Namun, tidak hanya itu, Cipacing juga menjadi produsen alat musik, panah tradisional, pisau, hingga layang-layang.
Berdasarkan penuturan salah satu pengrajin, keahlian membuat berbagai kerajinan sudah diturunkan oleh generasi-generasi terdahulu. Produknya sendiri tidak tetap pada satu jenis saja, alat musik misalnya, bisa berupa keramba, gitar, atau alat musik petik lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, pengrajin di Cipacing semakin berkurang jumlahnya. Menurut pengrajin panah tradisional, yang biasa disapa Pak Agus, anak muda di Cipacing sudah tidak tertarik untuk menjadi pengrajin, mereka lebih suka menjadi buruh di pabrik-pabrik sekitar Cipacing.
Berbagai aspek menjadi pengaruh menurunnya jumlah pengrajin, selain karena tidak adanya minat dari para pemuda, juga sulitnya dan mahalnya bahan baku. Meskipun tidak semua bahan baku harus dibeli oleh penggrajin, karena mereka juga memanfaatkan limbah kayu untuk beberapa kerajinan. Dalam sehari, pengrajin tidak dapat memastikan atau membatasi produknya, karena menurut mereka membuat satu kerajinan atau sepuluh kerajinan membutuhkan waktu yang tidak jauh berbeda, hal ini dikarenakan masa pengeleman yang membutuhkan waktu satu hari satu malam.
Produk kerajinan Cipacing tidak hanya dipasarkan di sekitar Bandung dan Sumedang. Para pengrajin telah mengirimkan dan memasok kerajinannya ke beberapa daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta dan Bali. Baru-baru ini permintaan juga datang dari Aceh. Malaysia juga menjadi salah satu konsumen kerajinan Cipacing.
Harga produk yang diberikan bervariasi, untuk gelas pengrajin memberi harga 15.000 perbuahnya. Untuk alat musik berkisar antara 25.000 sampai 50.000, tergantung dari bahan baku dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Pembuatan kerajinan umumnya tidak hanya dilakukan oleh satu orang, tetapi beberapa orang dengan pembagian tugas yang berbeda-beda. Menurut penuturan Pak Agus, dirinya hanya memasang lempengan dan tali pada panah, sedang ada pengrajin yang hanya mengukir badan panah, atau meraut anak panah.
Pembagian tugas ini juga membantu membuka peluang pekerjaan. Menurut penuturan pengurus RT setempat, banyak dari warga yang putus sekolah akhirnya membantu pengrajin menggambar, meraut, atau membantu pekerjaan dari para pengrajin. Hal ini juga dipengaruhi oleh permintaan yang cukup tinggi dari konsumen, sehingga pengrajin harus bekerja cepat dalam proses produksi. Melalui cara pembagian tugas ini para pengrajin dapat mempercepat proses produksinya.
Umumnya warga memiliki ruangan khusus produksi sebagai gudang dan bengkel. Namun tak jarang yang mengerjakannya di teras rumah, atau menyatukan ruang produksi dengan dapur. Saat waktu penjemuran, tepi jalan di lingkungan ini akan dihiasi kerajinan setengah jadi, seperti kayu yang baru di lem, atau kerajinan yang baru saja di cat.
Kerajinan-kerajinan di Cipacing adalah kerajinan ciri khas Cipacing sendiri. Para pengrajin mengembangkan sendiri bentuk, motif dan warna dari tiap kerajinannya. Pak RT pun mengatakan, ini kerajinan khas Cipacing dan alat music khas Cipacing. Warna dan motif yang tertera tidak meniru motif daerah manapun, ini dibuat sesuai ide dari pengrajinnya.

 

Foto dan teks: Tamimah

Editor: Gerhan Zinadine

LEAVE A REPLY