Kompetensi untuk Memajukan Anak Bangsa

0
Kompetensi untuk Memajukan Anak Bangsa
Ilustrasi: Zara Zeysa Kirana

Tepat 23 tahun lalu pada 1994 resmi ditetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Awalnya, pada 25 November tahun 1945 dilaksanakan sebuah kongres di Surakarta sebagai bentuk dukungan dari para guru terkait kemerdekaan Indonesia. Lalu, pada hari itu pula mereka menyebut dengan istilah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Namun, saat itu belum ada keputusan resmi dari pemerintah untuk ditetapkan sebagi hari besar. Baru tahun 1994 tertulis keputusan presiden No. 78 Tahun 1994 menyatakan bahwa 25 November ditetapkan sebagi Hari Guru Nasional.

Saat ini di Indonesia bisa dikatakan guru di Indonesia perlu dibenahi kompetensinya sebagai seorang guru. Mengapa demikian? Sejatinya seorang guru harus memenuhi empat kompetensi yaitu, Kompetensi Pedagogik yang meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik serta pengembangan dan aktualisasi dari potensi yang dimiliki peserta didik. Masih banyak guru yang pada umumnya hanya mengetahui murid yang TER saja. Seperti terbodoh, ternakal, dan terpintar. Karena banyaknya murid dalam satu kelas, membuat guru menjadi sulit dan malas untuk memahami muridnya satu per satu.

Padahal tiap anak memiliki potensi dan keunikannya masing-masing. Potensi itu bisa berupa kemampuan anak di luar akademis seperti dalam bidang musik, olahraga dan hal lainnya. Jadi tidak semata-mata kemampuanya terbatas pada akademis saja. Keunikan pada anak seperti hanya metode-metode tertentu yang dapat dipahami oleh mereka dalam menerima pembelajaran. Di sini seorang guru ditantang agar dapat memilih metode yang dapat digunakan untuk sang anak menerima pembelajaran.
Selanjutnya adalah Kompetensi Kepribadian yang merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Namun, akhir-akhir ini kita sering mendapati guru melakukan kekerasan kepada murid. Seperti di SMK Gema Bangsa Cisoka yang salah satu oknum guru melakukan kekerasan dengan menendang salah satu murid sebanyak dua kali. Ada juga guru yang memukuli siswanya secara membabi buta. Bahkan, guru yang mencabuli siswanya pun ada. Jadi, bagaimana bisa menjadi teladan bagi peserta didik kalau masih ada oknum guru yang seperti itu. Bicara mengenai oknum guru, di beberapa sekolah ada guru yang suka melakukan pungutan liar (pungli) dengan berbagai alasan. Tindakan tersebut bisa dibilang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Tetapi, di luar sana masih banyak juga guru yang memang bisa dijadikan teladan bagi muridnya yang memang memberikan contoh baik dan pengajaran maksimal.
Kompetensi yang ketiga ialah Kompetensi Sosial dimana guru dituntut untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kenyatannya, sering sekali kita menemukan hubungan antar guru yang kurang baik. Rasanya ketika menuju ruang guru terdapat ‘kubu-kubu’ antar mereka. Ada juga guru yang terus menjelaskan materi tanpa peduli muridnya mengerti atau tidak yang jelas ia sudah menerangkan materi kepada muridnya. Seharusnya guru menjadi contoh dengan komunikasi yang baik, misalnya ada seorang Kepala Sekolah di Bantul yang pernah mengirimkan surat berisikan motivasi agar orang tua tetap mendukung anaknya apapun hasil ujiannya saat itu. Surat tersebut viral dan mendapat apresiasi dari netizen di seluruh nusantara. Hal-hal seperti itu yang perlu menjadi contoh bagi guru-guru lainnya.

Kompetensi yang terakhir ialah Kompetensi Profesional yang berisikan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya. Nah, di sinilah yang menjadi tantangan karena kebanyakan guru hanya menjelaskan meteri berdasarkan satu jenis buku atau menjelaskannya sama persis dengan apa yang ada di buku, sedangkan saat ini berbagai informasi sudah dapat dengan mudah dicari dan dipelajari. Guru dinilai kurang menciptakan suasana belajar yang sifatnya diskusi dan pertukaran pikiran. Saat seorang guru kurang paham mengenai materi, ia tidak akan bisa menjelaskan secara utuh dan mengakibatkan murid hanya mendapat ilmu sepotong-sepotong dan tidak utuh. Sehingga tidak terbentuk landasan yang kuat bagi murid terkait materi yang akan dibahas.

Masih banyak sekali masalah kompetensi yang dialami oleh guru-guru di Indonesia. Perlu ada perubahan menyeluruh dari sistem pendidikan di Indonesia terutama berkaitan dengan kompetensi guru. Saat seorang guru tidak bisa membangun dan membaca potensi dari seorang anak maka bisa jadi kedepannya sang anak juga mengalami kebuntuan dalam menggali potensi diri, lain halnya jika seorang guru benar-benar telah dipersiapkan untuk mengajar dan mengayomi muridnya.

Semoga ke depannya ungkapan dari Ki Hajar Dewantara yaitu, Ing ngarsa sung tuladha yaitu di depan memberi teladan, Ing madya mangun karsa dimana harus selalu memberikan bimbingan, serta Tut wuri handayani yang berarti memberikan semangat atau dorongan dari belakang bisa benar-benar terealisasi dan terlaksana dengan baik.

Selamat Hari Guru Nasional!

(Savero Dwipayana)

Editor: Hilda Julaika

LEAVE A REPLY