Berlomba-lomba Dahulu, Dananya Kapan-kapan

1
Berlomba-lomba Dahulu, Dananya Kapan-kapan

Apresiasi bagi Mahasiswa Berprestasi

Sekalipun sempat tersendat saat pendanaan, baik ESU, PSM, serta UHU, tahun ini berhasil mencetak prestasi. ESU misalnya, September lalu meraih juara 1 tingkat nasional Perbanas Marketing Debate Competition yang diadakan oleh Perbanas Institute, Jakarta. PSM meraih juara 1 kategori Folksong dan juara 2 kategori Choral Works 54th International Competition of Choral Singing di Austria, Juli lalu. Tim putri UHU pun meraih juara 2 women division dalam lomba tingkat internasional, 4th Bali Hockey Festival, Oktober lalu.

Rita Nurhasanah, Giovanni Nickson, dan Nabila Putri Zasa (ki-ka) ketika menjuarai Perbanas Marketing Debate Competition (PMDC) 2017. (Foto: LINE@/ESU Unpad)

Akan tetapi, prestasi-prestasi ini nampaknya tidak mendapatkan apresiasi yang berarti dari rektorat. Fakhrizal mengatakan, setelah tim putri UHU memperoleh juara 2 di 4th Bali Hockey Festival lalu, UHU hanya mendapatkan ucapan selamat. Apresiasi yang diterima PSM adalah penghargaan sebagai UKM berprestasi yang disampaikan pada upacara pembukaan Prabu tahun ini. Sedangkan ESU dinobatkan sebagai UKM paling berkontribusi dalam Unpad Award September lalu. Namun penghargaan yang terakhir disebut itu tidak datang dari rektorat, melainkan dari BEM Kema Unpad.

Padahal, menurut Fajri, apresiasi dalam bentuk dana adalah hal penting dan bisa jadi motivasi tersendiri selain pemberian bimbingan kepada para peserta lomba, khususnya untuk ajang Mahasiswa Berprestasi. “Yang paling bikin orang mau (ikut lomba dan berprestasi) sebenarnya apresiasi sih,” kata Fajri.

Ia menyebut, apresiasi itu perlu, setidaknya untuk para peserta lomba yang mewakili Unpad di ajang, seperti NUDC (National University Debating Championship) dan Pimnas. Fajri sendiri mengatakan rektorat memberikannya apresiasi dalam bentuk dana. Namun, jika dibandingkan dengan dana apresiasi yang diterima oleh mawapres universitas lain, dana apresiasi mawapres Unpad terbilang kecil. Berdasarkan penuturan Fajri, dana apresiasi yang diterima oleh mawapres Universitas Indonesia bahkan mencapai 5 kali lipat dari dana apresiasi yang ia terima.

Ditanya soal perlu atau tidaknya apresiasi dalam bentuk dana, Vanda dari PSM menjawab, “Menurutku perlu. Kalaupun memang tidak bisa dalam bentuk uang, mungkin setidaknya kami-kami mendapatkan sesuatu yang dapat berguna demi menunjang keberlangsungan jalannya organisasi,”

Robi Afrizan Saputra, Kepala Departemen Akademik dan Penalaran BEM Kema Unpad, mengatakan perlunya apresiasi dari rektorat untuk mendorong semangat kompetisi mahasiswa. Walau menurutnya, hal itu tidak signifikan memengaruhi peningkatan prestasi.

“Setidaknya, apresiasi ini untuk menghargai kinerja anak-anak Unpad yang sudah punya prestasi karena prestasi ini juga mendukung peringkat Unpad,” ujar Robi ketika ditemui di sekretariat UKM Barat, Sabtu (14/10) lalu.

Pernyataan Rektorat

Sementara, menurut pihak Rektorat, mereka sudah cukup mendukung mahasiswa Unpad dalam berprestasi.

“Alokasi dana itu (diharapkan Dikti) 10 persen dari BPPTNBH (Bantuan Pendanaan PTN-BH, -red.). Nah, sekarang alokasi dana sudah 11-12 persen dari BPPTNBH. BPPTNBH nya 98 M, kalau untuk kegiatan kemahasiswaan (secara keseluruhan tidak hanya untuk lomba) 11 hingga 12 miliar,” kata Reiza.

Dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT) sendiri, BPPTNBH yang diberikan oleh Dirjen Dikti tercantum berjumlah Rp 100,118 miliar. Sedangkan jumlah dana untuk kegiatan kemahasiswaan berjumlah Rp 13 miliar. Khusus untuk lomba, dana yang dianggarkan adalah Rp 8,5 miliar. Namun hal itu baru merupakan estimasi pengeluaran saja. Estimasi ini belum tentu sepenuhnya tepat. Itu mengingat dalam estimasi  itu, salah satunya pembangunan Gedung Komunitas Unggulan di depan plang Unpad tidak direalisasikan pada tahun ini, seperti yang tertera dalam estimasi pengeluaran tersebut.

Kemudian, terkait partisipasi dalam lomba, Reiza mengatakan, “Kalau mau ikut lomba, perhatikan lombanya (lomba yang masuk penilaian dikti). Jadi ikut lomba di provinsi, tapi pesertanya cuma 5 perguruan tinggi, percuma.”

Agar bisa mendapatkan penilaian dari Dikti untuk pemeringkatan Unpad, mahasiswa harus memperhatikan lomba dengan jumlah minimal tertentu untuk pesertanya. Bila mengikuti lomba tingkat provinsi, minimal pesertanya harus 4 perguruan tinggi. Bila mengikuti lomba tingkat wilayah (lomba yang diikuti peserta minimal dari tiga provinsi), minimal pesertanya 10 perguruan tinggi. Kalau untuk lomba nasional, pesertanya minimal dari 5 provinsi dan 10 perguruan tinggi. Sedangkan, untuk lomba internasional, pesertanya minimal dari 3 negara. Hal itu dapat dicek di tautan berikut.

Terkait apresiasi untuk peserta; pendanaan lomba yang tersendat; dan strategi mendorong prestasi  mahasiswa dari Dirdikmawa yang baru menjabat Wawan Hermawan, tim dJatinangor belum mendapat konfirmasi lebih lanjut. Tim dJatinangor sudah berusaha menemui pihak Dirdikmawa sebanyak tiga kali, tapi Wawan Hermawan, Direktur Pendidikan dan Kemahasiswaan yang baru dilantik, selalu tidak berada di tempat. Ada pun Aji Sasongko, Sekretaris Dirdikmawa menolak diwawancarai. Sedangkan untuk mewawancarai perwakilan Dirdikmawa yang mengurusi lomba, tim dJatinangor dihadapkan dengan alur birokrasi yang rumit.

(Ahmad Zuhhad & Ananda Putri Upi Mawardi)

Editor: Reza Pahlevi

LEAVE A REPLY