Tanggapan Kedua Paslon soal Aksi 3 Tahun Jokowi

0
Tanggapan Kedua Paslon soal Aksi 3 Tahun Jokowi
Pasangan calon kedua, Izmu Tamami Roza (kanan) dan Dwi Ari Nugraha (kiri), ketika memaparkan visi dan misinya di debat terbuka Prama kemarin (10/11). Foto: Reza Pahlevi

Debat terbuka kedua pasangan calon (paslon) Ketua BEM Kema Unpad telah dilaksanakan kemarin (10/11) sore. Acara dimulai 16.05, terlambat sekitar satu jam dari undangan yang disebar Prama lewat LINE@. Debat dibuka dengan pemaparan visi-misi dari setiap paslon, lalu jawaban kedua paslon terhadap pertanyaan moderator, dan kedua paslon saling bertanya-jawab. Setelah itu, audiens pun diberi kesempatan untuk bertanya.

Salah satu pertanyaan dari audiens adalah tanggapan kedua paslon tentang posisi Unpad di aksi 3 tahun Jokowi beberapa saat lalu (20/10). Selain itu, perginya Unpad dari lokasi sebelum aksi selesai juga dipertanyakan. Aksi sendiri berakhir dengan penangkapan 14 mahasiswa oleh polisi.

Pasangan calon pertama, Ahmad Fida Abdullah (kanan) dan M. Savero Ghafiruzzambi (kiri), ketika memaparkan visi dan misinya. Foto: Reza Pahlevi

Paslon pertama, Ahmad Fida Abdullah-M. Savero Ghafiruzzambi diberikan kesempatan menjawab terlebih dulu. Savero, sebagai salah satu yang hadir di aksi, pun menjawab. “Jelas posisinya berada di masyarakat dan khalayak banyak yang dirugikan,” ujarnya mengenai posisi Unpad saat itu.

Mengenai “cabut”-nya Unpad, ia menceritakan mahasiswa Unpad ingin pulang karena ada aktivitas di pagi harinya. Walau begitu, ia bersama teman-temannya, termasuk Ketua BEM Kema Novri Firmansyah, memutuskan tinggal untuk menunjukkan solidaritas.

Paslon kedua, Izmu Tamami Rosa-Dwi Ari Nugraha, sendiri mengkritik gerakan mahasiswa saat itu. “Gerakan hanya mengandalkan momentum,” ujar Ari. Ia menganggap seharusnya gerakan berangkat dari kajian profesional yang melibatkan pakar di bidangnya.

Kritik juga datang dari Izmu. “Kita demo turun karena aksi solidaritas, (seharusnya) bukan! Kita demo harusnya karena kita terpanggil!” serunya lantang ketika membahas mengapa aksi mahasiswa sering dianggap “ditunggangi” oleh pihak luar. Izmu menganggap seharusnya mahasiswa memberikan solusi lewat kajian yang ada sesuai fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. “Terakhir, ketika kita demo selesaikan sampai akhir!” tutupnya.

Aksi solidaritas BEM SI Korwil Jabar terhadap 14 mahasiswa yang ditahan polisi pada Senin (23/10) lalu. Foto: Arkani Dieni

Banyak pihak yang menganggap pulangnya Unpad yang lebih cepat sebagai “pengkhianatan” dari aksi  BEM Seluruh Indonesia (BEM SI). Korwil Jabar sendiri menggelar aksi solidaritas terhadap 14 mahasiswa yang ditangkap 3 hari setelah aksi 3 tahun Jokowi. Saat itu, Unpad pun tidak terlihat hadir di Gedung Sate yang dipakai sebagai lokasi aksi.

(Reza Pahlevi)

Editor: Gerhan Zinadine Ahmad

LEAVE A REPLY