Mengintip TPB: Mata Kuliah Umum Rasa SDGs

1
Mengintip TPB: Mata Kuliah Umum Rasa SDGs
Penyambutan dan pemakaian jas oleh Rektor Unpad Tri Hanggono dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar di hari pertama penerimaan mahasiswa baru Unpad (21/8). Tahun ini, mahasiswa baru tetap diwajibkan melaksanakan tahapan persiapan bersama (TPB) dengan sedikit perubahan. (Foto: Dokumentasi Prabu 2017)

Setelah tahun lalu Tahapan Persiapan Bersama (TPB) diselenggarakan untuk pertama kalinya, tahun ini TPB kembali dilanjutkan. Namun, praktik TPB tahun ini berbeda dari tahun lalu. Perubahan konsep TPB itu membuat beberapa mata kuliah dihilangkan. Mata kuliah itu, antara lain Manusia dan Sains, Sosio Humaniora bagi mahasiswa rumpun sosio humaniora dan Pengantar Sains dan Teknologi bagi mahasiswa rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Mata kuliah yang tetap dipertahankan adalah Olahraga Kebugaran dan Kreativitas (OKK) juga Mata Kuliah Umum (MKU), seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Agama, Pancasila, dan Kewarganegaraan. Ada pun mata kuliah Keterampilan Belajar dan Literasi Informasi yang pada tahun lalu merupakan mata kuliah tersendiri kini digabungkan dengan mata kuliah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Selain perubahan pada mata kuliah, jumlah SKS untuk beberapa MKU pun berubah. Tahun ini, jumlah SKS mata kuliah Agama bertambah menjadi 2 SKS dari sebelumnya 1 SKS. Mata kuliah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris  pun mengalami penambahan jumlah SKS yang sama.

Perubahan Besar MKU

Perubahan yang paling nampak terjadi ada pada Mata Kuliah Umum (MKU). Ini kami ketahui setelah mewawancarai beberapa mahasiswa angkatan 2017 dan dosen pengajar dalam MKU. Selain pertambahan jumlah SKS dari tahun lalu, untuk mengikuti pembelajaran mata kuliah tersebut, mahasiswa harus masuk dalam sebuah kelas besar berjumlah sekitar 200 orang.

Mahasiswa yang tergabung dalam kelas ini terdiri dari mahasiswa-mahasiswa dari berbagai progam studi (prodi) dan fakultas. Praktik ini menggenapi usaha Unpad untuk menciptakan kelas pengenalan dunia kuliah yang terdiri dari mahasiswa berbagai prodi. Niat Unpad itu tidak bisa terlaksana pada tahun sebelumnya untuk mata kuliah, selain OKK.

Tak hanya itu, kurikulum MKU ini pun berubah. Bila sebelumnya materi pembelajaran tiap mata kuliah diberikan terpisah satu sama lain, kini hal itu tidak terjadi. Lima mata kuliah itu digabung. Unpad pun menyiapkan tema Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mata kuliah gabungan itu.

Kelas untuk mata kuliah gabungan ini diadakan setiap Selasa dan Jumat. Setiap pertemuan tersebut dimulai pukul 7.30 sampai pukul 11.30 atau terdiri dari 4 SKS. Satu poin SDGs dibahas untuk satu minggu atau dua pertemuan TPB.

Dalam mata kuliah gabungan ini mahasiswa akan mempelajari tiap poin dalam SDGs. Polanya, di awal mahasiswa akan mendapatkan materi tentang SDGs dari dosen, semisal presentasi data kemiskinan atau video tentang kelaparan di dunia. Materi ini biasanya disampaikan menggunakan bahasa Inggris. Setelah itu mahasiswa diharuskan berdiskusi dalam satu kelompok kecil beranggota dua atau tiga orang. Setiap kelompok mendiskusikan permasalahan terkait poin SDGs dengan perspektif agamanya dan pancasila atau peraturan perundang-undangan. Hasil dari diskusi itu nantinya harus dituliskan menjadi sebuah esai.

Selain berdiskusi dan membuat esai, mahasiswa pun diberi tugas kelompok lain yang harus dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya, biasanya setiap Jumat. Ada berbagai bentuk tugas di luar jam kuliah ini. Ada tugas membikin makalah, presentasi hasil diskusi, drama, atau film pendek mengenai topik yang mereka pelajari, tergantung dosen yang mengampu mata kuliah tersebut.

Untuk mata kuliah ini, dosen pengampu setiap kelas terdiri dari dua orang. Tim dosen ini dipilih salah satunya berdasarkan pengetahuan mengenai SDGs. Mereka tidak tetap mengajar untuk satu kelas, hanya mengajar untuk satu poin SDGs atau dua pertemuan bagi sebuah kelas. Tim dosen ini bisa saja minggu selanjutnya akan mengajar kelas lainnya mengenai poin SDGs yang sama. Artinya, sebuah kelas akan menemui tim dosen yang berbeda setiap minggunya.

Perubahan Kurikulum MKU ini, menurut Direktur Pendidikan dan Kemahasiswaan Reiza Dienaputra, “disesuikan dengan kebutuhan saat ini”. Mata kuliah ini juga ditujukan agar mahasiswa dapat memahami permasalahan nyata di sekitarnya dan dunia secara keseluruhan.

“Saya ajarkan mereka untuk lebih peka. Itu upaya kita agar permasalahan-permasalahan yang kita hadapi bisa dikenali sesegera mungkin oleh mahasiswa. Mahasiswa menjadi peka sejak dini,” katanya ketika diwawancarai di Rektorat Unpad, Jumat (15/9).

Mata kuliah ini, menurut Reiza, juga dibuat agar mahasiswa bisa lebih proaktif dan tidak “selamanya disuapi”, menghargai jurusan dan ilmu lainnya, serta belajar menghargai pandangan yang berbeda.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Arry Bainus, pada kesempatan lain menyebut bahwa pembelajaran MKU tahun-tahun sebelumnya “membebani mahasiswa dan tidak tepat sasaran dari learning outcome (capaian pembelajaran)-nya”. Setelah itu, Unpad mengubah metode pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik mahasiswa yang disebutnya “generasi milenial”. Disepakati kemudian bahwa kurikulum MKU menggunakan tema SDGs. Unpad memilih tema itu karena sesuai dengan apa yang disebut sebagai nilai “ke-Unpad-an” dan SDGs sedang banyak digalakkan sebagai pedoman pembangunan.

Ia juga tidak menyangkal bahwa penggabungan mata kuliah ini ditujukan untuk melawan “radikalisasi” agama yang banyak terjadi belakangan.

 

Praktik di Lapangan

Pelaksanaan TPB 2017 yang mengintegrasikan lima MKU itu rupanya tak seluruhnya mendapat respons positif dari pihak-pihak yang terlibat. Baik mahasiswa maupun dosen yang kami wawancarai mengutarakan adanya kekurangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran MKU kali ini.

Lina Meilinawati, dosen bahasa Indonesia yang dijadwalkan turut mengajar pada TPB tahun ini merasakan “hilang”nya mata kuliah bahasa. Model terintegrasi yang meniadakan penyampaian teori serta pelatihan dari dosen dianggapnya tidak efektif.

“Bahasa itu skill (keterampilan), jadi harus ada teori dan pelatihan. Penilaian bahasa nanti melalui makalah yang akan ditulis oleh mahasiswa tanpa ada perkuliahan. Bagaimana kita akan tahu progres mahasiswa kalau tiba-tiba menulis dan diminta menilai,” papar Lina ketika diwawancarai pada Jumat (22/9) lalu lewat layanan pesan singkat.

Menurut Lina, bahasa Indonesia tetap harus ada sebagai mata kuliah yang tujuannya meningkatkan kemampuan menulis akademik mahasiswa. Hal ini seperti yang dilakukan Institut Teknologi Bandung dengan menghadirkan mata kuliah bertujuan serupa dengan nama yang berbeda, Tata Tulis Karya Ilmiah.

Pendapat tersebut tak jauh berbeda dengan yang dikemukakan Maimoon Herawati. Dosen bahasa Inggris yang mengisi perkuliahan MKU selama dua pertemuan itu mengatakan tidak ada pembahasan mengenai bahasa Inggris selama ia mengisi kelas. Padahal, bahasa dipelajari melalui pembiasaan, dengan menggunakannya sesering mungkin.

“Walaupun penilaiannya nanti menggunakan tulisan tematik berbahasa Inggris, tetap sulit tercapai target pembelajaran bahasa Inggrisnya. Pola saya mengajar lebih efektif mengenalkan bahasa dan membangun kapasitas menulis mahasiswa secara kontinu.” Ujar Maimoon ketika dihubungi Jumat (22/9) lalu.

Cukup Mulyana, dosen mata kuliah agama dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) pun menyampaikan beberapa kekurangan. Menurut Cukup, kalaupun kurikulum TPB untuk MKU ini dijalankan dengan baik, tetap masih sangat banyak kelemahannya. Terlebih, menurutnya, MKU tidak ditangani dengan sungguh-sungguh.

Salah satu kekurangan yang paling “krusial”, menurut Cukup, adalah mengenai sulitnya menyesuaikan antara capaian pembelajaran dari Kemenristekdikti dengan kebijakan penggabungan MKU ini. Usaha penyesuaian antara kebijakan Kemenristekdikti dan kebijakan Rektorat ini membuat tim dosen di FMIPA harus mengabaikan sebagian capaian pembelajaran dalam kurikulum Kemenristekdikti. Perlu dicatat, capaian pembelajaran yang dimaksud Cukup adalah capaian pembelajaran mata kuliah Agama Islam saja.

“Kedua, kelasnya digabungkan. Satu kelas (sekitar) 200-100 orang, kadang-kadang tiga ratus orang,” ujar Cukup ketika ditemui di ruang prodi Fisika, FMIPA, pada Senin (25/9), “Kelas jadi tidak kondusif untuk diskusi, itu sangat tidak bagus untuk proses pembelajaran yang baik,”

Pendapat Cukup tersebut diamini oleh Rini Azharini, mahasiswi angkatan 2017 program studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi  Industri Pertanian. MKU yang berbentuk kuliah umum membuat proses perkuliahan kurang kondusif. Jumlah mahasiswa yang mencapai ratusan orang juga tidak diimbangi dengan sarana kelas yang memadai. Sehingga ada saja mahasiswa yang terpaksa duduk di lantai selama perkuliahan berlangsung.

Akan tetapi, pendapat itu dibantah oleh Direktur Pendidikan dan Kemahasiswaan, Reiza Dienaputra. Dalam acara Kajian Spesial Kema Unpad Merespons yang diadakan di Bale Rucita, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Jumat (15/9) lalu, Reiza mengatakan, “Saya kira kalau kuliah 300-an (mahasiswa) normal-normal saja. Kalau kuliah umum itu wajar-wajar. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Kalau kemudian ada masalah, gimana dosennya mengajarnya. Setiap dosen kita bicara tentang kualifikasi, kualitas batch. Bisa jadi ada dosen yang bisa kelas besar, ada yang individu. Itu yang jadi masalah.”

Terlepas dari sejumlah kekurangan yang ada, kelebihan TPB untuk MKU tahun ini masih dirasakan mahasiswa. Salah satunya adalah Ismi Indriani. Mahasiswa prodi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2017 ini mengaku wawasannya bertambah mengenai cara mengatasi masalah terkait poin-poin SDGs dari MKU ini.

Lain lagi dengan Maria Winanda Rebecca, mahasiswa Hubungan Internasional Fisip Unpad. Maria mengaku lewat TPB ia belajar untuk pandai bergaul dengan orang-orang berlatar belakang berbeda darinya.

“Kita ketemu teman dari fakultas lain terus kalau diskusi jadi harus pintar-pintar membawa diri karena kan orang macam-macam sifatnya,” kata Maria.

(Ananda Putri & Zuhhad A.)

Editor: Reza Pahlevi

LEAVE A REPLY