Setnov Bebas, Beberapa BEM di Bandung Gelar Aksi

1
Setnov Bebas, Beberapa BEM di Bandung Gelar Aksi
Aksi #JalanSaNtai yang diprakarsai BEM Kema Unpad di Jalan Dago, Bandung, pada Minggu (1/10). Pencabutan status tersangka Setya Novanto menjadi alasan aksi ini terlaksana. (Foto: Athaya Soraya)

Minggu (1/10), sejumlah mahasiswa dari beberapa universitas di Bandung mengadakan aksi untuk menanggapi keputusan pencabutan status tersangka korupsi Ketua DPR RI Setya Novanto. Aksi dilakukan di kawasan car free day Jalan Dago, Bandung. Aksi berlangsung sekitar dua jam yang diisi dengan pembacaan puisi, penandatanganan petisi dan orasi dari ketua BEM universitas yang turut serta.

Aksi mahasiswa Unpad dikoordinatori oleh Departemen Aksi dan Propaganda BEM Kema Unpad yang dinamakan “Jalan SaNtai”. Dimulai dengan titik kumpul di Monumen Perjuangan Jalan Dipatiukur. Massa yang terkumpul kemudian mulai menuju Jalan Dago pukul 08.46.

Sepanjangperjalanan massa aksi dari Unpad menyanyikan lagu yang berisikan kalimat “turunkan SN (Setya Novanto)” serta penyebutan fakta-fakta kasus yang menjerat Setya Novanto, seperti nominal uang yang dikorupsi. Massa aksi Unpad juga membagikan fotocopy KTP sebagai peringatan bahwa banyak KTP masyarakat yang belum mendapatkan KTP.

Titik pusat aksi berada di depan Rumah Sakit Santo Borromeus. Massa memegang beberapa poster, dan spanduk bertuliskan #tangkap SN dan RIP Keadilan. Massa juga membentangkan spanduk dan menyediakan spidol untuk tanda tagan petisi yang dilakukan oleh masyarakat yang melintas.

Salah satunya adalah Useng Komaruddin. Ia turut menandatangani petisi karena sama-sama tidak setuju dengan korupsi, baginya Indonesia hancur karena koruptor. “Saya setuju dengan aksi ini, karena saya juga tidak setuju dengan korupsi.” Bagi Useng, hukuman yang diberikan bagi koruptor masih kurang memberikan efek jera, bahkan kabar yang didengar penjara bagi koruptor lebih baik dari penjara maling ayam. “Saya harap setelah ini tidak ada lagi remisi dan keringanan bagi koruptor,” ujar Useng.

Dalam aksi ini, setiap Ketua BEM menyampaikan orasi. Salah satunya adalah Ketua BEM Kema Unpad Novri Firmansyah. Ia menyampaikan bahwa saat demokrasi sudah tidak baik dan keadilan tidak ditegakkan maka reformasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa terdahulu sia-sia. Aksi ini diawasi oleh 3 orang polisi setempat dan diutup dengan doa bersama.

Mencerdaskan Masyarakat

Aksi ini telah direncanakan oleh para Ketua BEM universitas melalui komunikasi di media sosial. Tujuan utamanya adalah mencerdaskan masyarakat Kota Bandung. “Kami ingin mencerdaskan, dan membangun kembali keresahan atau kesadaran masyarakat akan hukum yang tidak ditegakkan” ujar Novri. Menurut Ketua BEM Politeknik Bandung (Polban) Ghifaris Vasha, “Hukum mestinya berlaku untuk semua orang, tapi Setya Novanto tampaknya memiliki sembilan nyawa atau kebal hukum.”

Awalnya BEM KM ITB sudah merencanakan untuk turun dan membuat aksi pada tanggal 28, atau saat sidang berlangsung, tapi karena sidang dimajukan dan informasinya terkesan mendadak, maka tidak memungkinkan untuk pergi ke Jakarta. “Maka kami berniat untuk membuat aksi, setidaknya untuk mencerdaskan masyarakat kampus dan Bandung tentang kasus ini” ujar Ketua BEM KM ITB Ardhy Rasy Wardhana.

Aksi ini akan berlanjut ke aksi yang lebih besar, dengan mengadakan konsolidasi dengan BEM Jabodetabek. Petisi yang ditandatangani juga akan dibawa untuk turun saat aksi berikutnya. Beberapa BEM Universitas seperti Polban akan mengadakan diskusi dan pembahasan kembali di kampus.

Unpad sendiri akan mengadakan audiensi pada hari Kamis di Unpad Jatinangor dengan melibatkan semua ketua kelembagaan kampus, untuk menanggapi kasus Setya Novanto. Audiensi dan pembahasan dari masing-masing kampus dilakukan sambil menunggu kabar tembusnya surat audiensi yang dikirimkan ke Jakarta. Apabila surat tersebut tembus, aksi akan kembali dilanjutkan di Jakarta.

(Tamimah Ashilah)

Editor: Reza Pahlevi

LEAVE A REPLY