Dies Natalis Unpad ke-60, antara Orasi Jokowi dan Puisi Mahasiswa

0
Dies Natalis Unpad ke-60, antara Orasi Jokowi dan Puisi Mahasiswa
Salah satu spanduk yang dibentangkan di Brooklyn Unpad, Jatinangor, Sumedang pada Senin (11/9). Sore hari itu, sekumpulan mahasiswa merayakan ulang tahun Unpad ke-60 dengan membaca puisi, memaikan musik, dan menggelar lapak buku. (Foto: Reza Pahlevi)

Kedatangan Presiden Jokowi di Kampus Dipatiukur pada Senin (11/9) dalam rangka dies natalis Unpad ke-60 praktis membuat perhatian nasional terpusat di sana. Meski begitu, ini tak berarti Kampus Jatinangor ketinggalan dalam merayakan ulang tahun kampusnya. Sekumpulan mahasiswa dari FISIP, UKM-UKM, dan komunitas-komunitas punya caranya sendiri.

Sore menjelang, ketika mahasiswa dan staff kampus mulai berhamburan ikut meramaikan lalulintas di Jatinangor, sekelompok mahasiswa berkumpul di Brooklyn Unpad membuka lapak buku, memajang potret-potret Unpad, berpuisi dan juga orasi.

Dan

Aku bertanya-tanya:

Tentang kebijakan dan pembangunan

Dari penelitian sampai pengabdian

Dari himpitan sampai kebebasan

Juga menza

Dan dana

Penggalan puisi karya salah satu orang dalam kelompok mahasiswa yang berkumpul tadi, Eristya Pratama seorang mahasiswa Ilmu Politik yang menyuarakan aspirasinya melalui puisi yang sarat akan makna.

Perayaan Dies Natalis secara sederhana ini diprakarsai oleh DIPAN PERS, lembaga pers mahasiswa milik mahasiswa Ilmu Politik Unpad dengan Muhamad Fachrial (Faceh) sebagai pemimpinnya.

“Membangun kesadaran, itu tujuan utamanya, makanya kami rangkul banyak pihak untuk bergabung, bukan untuk menunjukkan siapa yang yang lebih superior namun minimalnya untuk saling mengenal satu sama lain, saling memahami nafas pergerakan masing-masing komunitas dan lembaga, bisa dikatakan juga memang tujuannya adalah silaturahim,” jawabnya menjelaskan tujuan mengadakan acara pameran foto, puisi dan orasi di Brooklyn Unpad.

Selain itu, menurut Ketua BEM FISIP Ragib Firdaus acara ini juga merupakan sebuah awareness kepada mahasiswa, karena dibalik perayaan 60 tahun ini ada masalah-masalah yang terjadi di kampus, misalnya rencana penghapusan kantin fakultas dan diganti dengan kantin terpusat yang mengundang pro dan kontra.

Ketua BEM FISIP Ragib Firdaus turut berorasi dalam acara perayaan ulang tahun ke-60 pada Senin (11/9) sore lalu. (Foto: Reza Pahlevi)

Selain DIPAN PERS, acara ini juga diramaikan oleh LPPMD dan HMPSIPOL sebagai bentuk silaturahmi mereka. Bila DIPAN PERS memamerkan foto-foto Unpad, LPPMD menggelar lapak buku berbau politik, sedangkan dari HMPSIPOL mereka ikut meramaikan dengan menampilkan musik akustik dan musikalisasi puisi. Perayaan yang sederhana jika dibandingkan dengan yang digelar di Kampus Dipatiukur.

Mengetahui datangnya Presiden Joko Widodo ke perayaan dies natalis yang diselenggarakan di Dipatiukur, Faceh menyuarakan kekecewaannya. “Agak miris ketika pihak kampus Unpad begitu tanggap mempercantik fasilitas kampus DU tapi hanya terjadi ketika ada rencana kedatangan Presiden Jokowi saja, seolah bukan berniat memperbaiki sarana secara menyeluruh tapi hanya takut disorot pemerintah dan media. Belum lagi aspek-aspek politis yang semakin menunjukkan bahwa institusi pendidikan Unpad memiliki keberpihakkan pada pemerintah setelah sebelumnya memberikan gelar yang dianggap beberapa orang agak kontroversi kepada salah satu mantan presiden Republik Indonesia”.

Serupa dengan apa yang diutarakan oleh Faceh, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Ragib Firdaus yang sempat berorasi di acara ini juga menyayangkan kedatangan Presiden Jokowi mengapa tidak ke kampus Jatinangor yang diisi oleh mayoritas mahasiwa juga menjadi pusat kegiatan kemahasiswaan. Lagipula, Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang sebelumnya berkampus di Dipatiukur juga telah ikut pindah ke Jatinangor bergabung dengan fakultas lainnya.

Tak terhanyut dalam momen kedatangan Presiden, bapak Rektor Tri Hanggono Achmad rupanya tetap diingat, sehingga Faceh memanjatkan doa dan berpesanuntuk beliau, “Semoga selalu disehatkan, dilancarkan segala kebijakan dan inovasi yang dijalankan, jangan sampai ada lagi kebijakan yang dijalankan setengah-setengah dan kurang persiapan yang mengakibatkan implementasi yang tidak sesuai ekspektasi, dan tentunya lebih mendengarkan aspirasi dari berbagai pihak tak terkecuali mahasiswa. Refleksikan kembali apa yang sebenarnya menjadi tujuan awal didirikannya Unpad dan sudah sesuaikah dengan kondisi Unpad saat ini?”.

Tak peduli mau megah ataupun sederhana perayaannya, yang terpenting adalah doa-doa dan harapan yang dipanjatkan orang-orang di dalamnya, semoga di usia yang ke 60 tahun ini Unpad kita benar-benar menjadi tempat untuk bernaung bagi insan abdi masyarakat yang dapat membina nusa dan bangsa.

 

(Meisya Femilia & Zuhhad A.)

Editor: Reza Pahlevi

LEAVE A REPLY