Bahasa dan Sastra Sunda Mamat Sasmita: “Saya Memilikinya”

0
Bahasa dan Sastra Sunda Mamat Sasmita: “Saya Memilikinya”
Mamat Sasmita saat di Rumah Baca Buku Sunda. Foto: Bisnis.com

Dari luar tampak depan rumah ini terlihat sama saja seperti jejeran rumah lainnya di Jl. Margawangi VII No. 5, Margacinta, Ciwastra, Bandung. Namun, saat melihat plang nama “Rumah Baca Buku Sunda (Jeung Sajabana)” barulah kita ketahui bahwa bangunan sederhana tersebut merupakan rumah baca yang didalamnya terdapat gudang ilmu. Rumah Baca Buku Sunda (RBBS) Jeung Sajabana didirikan oleh seorang pribadi dengan intuisi sunda yang mengalir di jiwanya, sosok tersebut tak lain yakni, Mamat Sasmita. Laki-laki kelahiran Tasikmalaya, 15 Mei 1951 ini merupakan sosok yang memiliki kecintaan besar terhadap bahasa dan sastra sunda.

Ia menceritakan masa kecilnya yang sangat dekat dengan budaya lisan masa itu. Teknologi yang belum berkembang pesat seperti saat ini, membuat jalinan dalam keluarga lebih erat dan hangat. Orang Sunda memiliki budaya lisan yang kuat saat itu dibandingkan budaya tulis. Hal ini pun yang berlaku pada keluarga Mamat, ia mengatakan, orang tuanya kerap membacakan bermacam-macam buku tentang dongeng maupun cerita dalam bahasa sunda dan didengarkan oleh banyak telinga. Salah satu dongeng yang pernah dibacakan yakni, Wawacan Purnama Alam. Menurutnya, aktifitas tersebut dilakukan secara informal, terkadang sembari posisi tiduran, santai, dan sebagainya. Bermula dari aktivitas itulah ia tertarik terhadap buku sunda. Ia mengaku kerap terkenang dengan masa-masa saat orang tuanya memberikan dongeng kepadanya.

Kalo dulu itu orang sunda buadayanya, budaya lisan. Jadi kalo ada buku mesti satu buku  didengar bareng-bareng. Biasanya yang baca itu orang tua, kita (anak-anak) yang dengerin. Yang dibaca macem-macem ada cerita-cerita, dongeng.  Salah satunya adalah wawacan purnama alam,” ujarnya dengan antusias.

Setelah Uwak Sasmita (sapaan akrabnya) sudah bisa membaca, tumbuhlah kegemarannya dalam membaca. Pada saat itu pun, sudah banyak berdiri taman baca, akibatnya Mamat kerap meminjam buku untuk dibaca. Setelah ia memiliki penghasilan sendiri, ia selalu menyisihkan uangnya untuk membeli buku. RBBS merupakan hasil dari buku-buku yang telah ia beli dan baca sejak 1980. “Rutinnya  (mengumpulkan buku) sejak 1980, cuma Bapak ini kerja tidak di satu tempat, pindah-pindah, mungkin kalo ga pindah-pindah bisa lebih banyak bukunya,” kenangnya.

Menurut istrinya, Siti Salsiah, dirinya memahami kegemaran membaca dan mengoleksi buku yang dilakukan suaminya. Ia mengetahui, suaminya sudah memiliki ketertarikan pada buku, khususnya buku sunda sedari kecil berkat keluarga yang telah membentuk pribadinya tersebut. Wanita berjilbab ini sudah melanglang ke berbagai pulai di Indonesia seperti ke Bali, Lombok, Jambi, hingga Papua mengikuti suaminya berdinas. Di masa itu, ia melihat hobi suaminya membaca buku tetap berlangsung. Bahkan saat di Lombok, ia dan suaminya sempat membuka rumah baca buku sederhana yang bisa dikunjungi oleh warga setempat, terutama kalangan anak-anak. Siti Salsiah tidak merasa risih ataupun terganggu dengan hobi suaminya itu.

Ga risih, karena dia mungkin kalo punya uang ya beli buku, mungkin dia sisih-sisihkan, jadi tidak mengganggu rumah tangga. Ya gak terganggu, ya cuek ajalah tidak apa-apa. Jalan terus aja, dari dinas di daerah gitu ngumpulin buku, yang dibawa pindahan itu pasti buku lagi. Orang lain pada tertarik barang-barang seperti keramik, katanya (Mamat Sasmita) ‘Ah keramik mah gampang pecah, buku aja yang dibawa’” ungkapnya dengan tawa yang ramah.

RBBS sendiri berdiri pada 2004 silam. Di dalamnya tersedia banyak buku dengan bahan utama buku berbahasa sunda dan berkaitan dengan budaya sunda. Akan tetapi sesuai namanya “Jeung Sajabana”, yang artinya “dan sebagainya” dalam bahasa Indonesia. RBBS menyediakan juga buku bacaan lainnya diluar konteks kesundaan. Hebatnya, sistem peminjaman buku di RBBS tidak dipungut biaya dan tidak diberi tenggat waktu. Pembaca bisa membacanya sesuai dengan kebutuhan waktu. Pensiunan Telkom ini hanya mengingatkan untuk mengembalikan buku miliknya setelah selesai dibaca. Menurutnya sebagian besar pengunjung yang datang berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa.

Setelah ia menyerap berbagai informasi melalui buku, ayah dengan satu anak ini ingin menyampaikan gagasannya melalui menulis. Hal ini ia tuangkan dalam bentuk artikel dan carita pondok (carita pondok) yang telah dimuat oleh berbagai media. Menurutnya menulis artikel berarti menggunakan berbagai data yang disesuaikan dengan isi pesan yang ingin disampaikannya sedangkan fiksi berarti membuat sebuah data yang disampaikan ke publik. Ia menemukan kebebasan dengan menulis carpon. Ketika ditanya mengapa menggunakan bahasa sunda, ia menjawab lebih menyukai bahasa sunda. “Lebih seneng ke bahasa sunda sebagai orang sunda saya menggunakan bahasa sunda,” ujarnya. Ia melengkapi, menulis fiksi dalam bahasa sunda bukan sekadar alih bahasa, akan tetapi setidaknya harus memuat latar belakang budaya sunda. Beberapa karya carpon yang ia tulis yakni, Si Gatot, Kang Sabri Leungiteun Kalangkang, Ma Inung Newak Cahaya dan sebagainya.

Mantan Pemimpin Redaksi (Pemred) majalah berbahasa sunda Cupumanik ini memiliki pesan mulia yang ingin disampaikan melalui tulisannya, baik berupa artikel maupun carpon. Pesan tersebut yakni kemanusiaan. Baginya menghargai budaya sendiri merupakan suatu bentuk kemanusiaan. Ia menjelaskan, kontribusi dirinya mengangkat budaya sunda bukan sera merta menjadikan dirinya bebas membandingkan budaya sunda dengan budaya lain. Budaya akan bernilai luhur dan baik bila diterapkan sesuai dengan konteksnya. Ia menjelaskan, membaca itu adalah proses menyerap pemikiran si penulis tersebut. Menulis berarti sebaliknya, yakni proses menuangkan pemikiran atau gagasan atau ide yang kita miliki dalam sebuah tulisan. Ia pun melengkapi, saat membaca sebuah buku, sebagai pembaca kita tidak selalu setuju dengan pemikiran sang penulis. Maka muncullah gagasan kritik, kita bisa mengkritik orang lain melalui tulisan; orang lain pun bisa mengkritik kita melalui tulisan. Proses kritik tersebut dilakukan dengan cara yang baik dan manusiawi. “Di situlah letak kemanusiaannya muncul kembali,” jelasnya.

Uniknya karya artikel Mamat yang pernah dimuat di majalah Mangle berjudul “Ragam Hias dina Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian” bahkan menjadi referensi bagi tugas putrinya sendiri. Rahmah Firstiana yang kini menempuh pendidikan di Universitas Telkom Bandung mangambil jurusan Kriya Tekstil dan Mode. Bagi Rahmah, Mamat merupakan sosok yang bisa menjadi teman sekaligus seorang Ayah. Ia mengakui Ayahnya sudah memperkenalkan buku sedari kecil padanya, tapi tidak pernah memaksakan untuk membaca buku berbahasa sunda ataupun terkait kebudayaan sunda. Hubungannya dengan Mamat sebagai  anak dan Bapak diakuinya semakin erat. Mereka lebih sering mendiskusikan banyak hal, terutama terkait kebudayaan sunda yang memiliki relevansi dengan program studi yang sedang ditempuh Rahmah.

“Apalagi sekarang saya masuk jurusan Kriya Tekstil dan Mode yang ngebahas soal budaya jadi nyambung aja, makin ke sini makin ngobrol soal itu, makin ngediskusiin banyak hal,” celotehnya.

Mamat Sasmita membenarkan, generasi saat ini cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing dibandingkan bahasa sunda. Menurutnya ini adalah hal yang wajar, sebab ketika kita mempelajari sesuatu ada hal yang hendak dipetik. Misalnya, mempelajari bahasa Inggris agar mudah dalam memperoleh pekerjaan. Tapi perlu diingat bahwa budaya sendiri tidak berarti bisa dihilangkan begitu saja. Mamat menegaskan bahasa sunda pun memiliki perkembangan dari masa ke masa sesuai dengan perubahan zaman. Maka penggunaannya pun terus disesuaikan. Ia menilai, bahasa sunda semakin menghawatirkan. Oleh karena itu, ada beberapa bentuk upaya pelestarian yang dilakukan. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan mendirikan Rumah Baca Buku Sunda tersebut. Ada pula perayaan yang dilakukan tiap peringatan hari bahasa Ibu. Bahkan dunia internasional turut berpartisipasi melalui program UNESCO untuk melestarikan bahasa Ibu. Hal ini bukan permintaan orang Sunda melainkan perintah dari organisasi internasional yang peringatannya ada di setiap negara.

Ia pun kembali menegaskan untuk tidak perlu mengambil pusing para generasi yang sudah mulai melupakan budaya sendiri. Hal yang terpenting sudah dilakukannya upaya-upaya pelestarian. Menurutnya, setiap orang pasti akan mencapai masa yang menuntut dirinya untuk mencari jati diri budayanya sendiri. Ketika kita bekerja di daerah atau negara lain, pasti kita akan bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang. Pada akhirnya akan ada bentuk pertukaran sosial dan budaya yang terjalin. Bila kita sebagai orang Sunda dan tidak mengetahui bagaimana suku sunda, maka dengan sendirinya kita akan mencari tahu.

Kalo nanti keluar dari daerah Jawa Barat, lalu ditanya orang sekitarnya dari mana asal kita, pasti mengaku Jawa Barat, di Jawa Barat ada apa aja? bisa ngejelasin ga? Dan pasti akan terjadi, kalo kita ga tau sama sekali akan ngomong apa? Kebutuhan itu akan muncul nanti,  Bapak menyebutnya intuisi itu tadi. Lantas kalo ia mengaku orang sunda, tapi tidak mengetahui apa-apa tentang sunda, dirinya akan malu, akhirnya akan mencari dan itu sering terjadi,” tegasnya.

Ia tetap mensyukuri pemerintah tetap mengadakan mata pelajaran bahasa sunda sejak bangku Sekolah Dasar (SD). Hal itu merupakan bentuk upaya pelestarian bahasa sunda dari Menteri Pendidikan. Namun, hal ini tidak cukup, menurutnya keluarga perlu melakukan sosialisasi yang baik kepada anak-anaknya terkait bahasa sunda, sebagai bahasa Ibu mereka.

Di akhir kalimatnya ia menegaskan, kekayaan bahasa tidak pernah dipaksakan, biarkan saja. Hal yang terpenting, perlu adanya upaya-upaya pelestarian dari berbagai pihak agar bahasa dan sastra sunda tidak punah. Baginya membaca untuk menyerap informasi dan menulis untuk menyampaikan gagasannya adalah hal yang mengantarkannya untuk berkontribusi pada bahasa dan sastra sunda. Menulis berarti pula mendokumentasikan maka bisa berdampak pada kemanusiaan. Menulis adalah proses memanusiakan manusia dalam peradabannya.

Ketika ditanya, “Mengapa Anda menjunjung luhur bahasa dan sastra Sunda?”. Ia menjawab dengan tegas dan meyakinkan, “Saya Memilikinya. Itu saja,”

Hilda Julaika

LEAVE A REPLY